30 Karung Beras untuk Para Guru Ngaji: Aksi Nyata PAY & Do IT Dukung Pendidikan Umat

Jakarta, 26 Juli 2025 – Sore itu, di sebuah gang sempit di kawasan Jakarta Barat, suara anak-anak mengaji terdengar berirama dari sebuah rumah sederhana. Suara mereka masih tersendat-sendat, tapi semangatnya luar biasa. Di depan mereka, duduk seorang pria paruh baya dengan peci hitam dan senyum teduh. Dialah Pak Ahmad, salah satu guru ngaji yang setiap hari dengan sabar mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an pada anak-anak kampungnya—tanpa bayaran, tanpa fasilitas, hanya dengan niat lillahi ta’ala.

Dan hari itu, wajah Pak Ahmad tampak sedikit berbeda dari biasanya. Di depan rumah belajarnya, tergeletak satu karung beras bertuliskan “PAY & Do IT – Pecinta Anak Yatim & Doeafa Indonesia Tercinta”. Sebungkus sederhana, tapi penuh makna.


Beras yang Bukan Sekadar Makanan

Selama bulan Juli 2025, PAY & Do IT menyalurkan 30 karung beras kepada para guru ngaji yang mengajar di berbagai rumah belajar di wilayah Jakarta Barat.
Beras mungkin terdengar biasa, tapi di tangan mereka yang setiap hari mengabdi untuk ilmu, bantuan itu terasa luar biasa.

“Bagi kami, ini bukan soal berasnya,” kata Pak Ahmad sambil tersenyum. “Tapi soal perhatian. Rasanya bahagia sekali ada yang ingat sama guru ngaji.”

Setiap karung beras itu datang dengan pesan sederhana: terima kasih atas dedikasi para guru ngaji yang menjaga cahaya ilmu tetap hidup, bahkan di tengah keterbatasan.

PAY & Do IT memang sudah lama dikenal sebagai gerakan sosial yang tak sekadar memberi bantuan, tapi juga menghargai perjuangan mereka yang berjuang tanpa sorotan kamera.


Para Penjaga Cahaya di Gang-Gang Sempit

Di banyak sudut kota besar seperti Jakarta, masih ada begitu banyak rumah belajar yang berdiri di antara deretan rumah padat penduduk. Tempatnya kecil, tapi selalu ramai. Di situlah anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, shalat, dan adab dasar kehidupan.

Sebagian besar rumah belajar itu tidak punya papan nama besar atau fasilitas lengkap. Bahkan, sebagian guru ngajinya masih harus bekerja serabutan di siang hari untuk menghidupi keluarga. Tapi setiap sore, mereka tetap datang, mengajar dengan senyum, seolah lelahnya hilang begitu mendengar suara anak-anak mengaji.

Inilah sosok-sosok yang jarang muncul di televisi, tapi sesungguhnya menjadi penjaga moral generasi muda. Dan PAY & Do IT datang untuk mengatakan: kami melihat kalian, kami menghargai kalian.

 

💚 Mau Ikutan Berbagi ?
KLIK Rekening Donasi PAY


Gerakan dari Rumah Belajar ke Rumah Belajar

Program penyaluran ini dilakukan secara bertahap sepanjang bulan Juli. Tim relawan PAY & Do IT menyusuri beberapa kelurahan di Jakarta Barat—mengetuk pintu, menyapa guru-guru ngaji, dan menyerahkan beras langsung ke rumah belajar masing-masing.

Mereka datang bukan dengan gaya lembaga besar, tapi dengan cara sederhana: membawa karung beras di punggung dan senyum di wajah.

“Setiap kali sampai di rumah belajar, suasananya selalu haru,” cerita salah satu relawan, Mbak Dini. “Ada guru ngaji yang matanya berkaca-kaca, ada yang langsung membagikan sebagian berasnya ke tetangga. Mereka itu bukan cuma sabar, tapi luar biasa dermawan.”

PAY & Do IT memang punya prinsip: berbagi itu bukan tentang besar kecilnya bantuan, tapi tentang niat dan ketulusan. Karena dari hal kecil seperti inilah kehangatan sosial tumbuh dan menular.


Transparansi dan Pemerataan: Dua Hal yang Tidak Bisa Ditinggalkan

Setiap penyaluran dilakukan dengan prinsip transparansi dan pemerataan. PAY & Do IT memastikan bahwa bantuan sampai tepat sasaran—kepada guru-guru ngaji yang benar-benar aktif membina anak-anak di wilayah padat dan memiliki keterbatasan ekonomi.

Tidak ada pemotongan, tidak ada perantara. Semua diserahkan langsung oleh tim lapangan. Prosesnya didokumentasikan dengan sederhana, bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga kepercayaan para donatur dan masyarakat yang ikut mendukung.

“PAY itu bukan lembaga besar, tapi kami belajar dari nilai yang besar: kepercayaan,” ujar Bangzar, inisiator PAY & Do IT. “Kalau orang sudah percaya, maka bantuan sekecil apa pun akan punya dampak besar.”


Menguatkan Pendidikan Nonformal yang Berakar dari Nilai Agama

Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang kencang, peran guru ngaji sering kali terpinggirkan. Padahal, mereka inilah yang menanamkan pondasi moral dan nilai keagamaan sejak dini.

Anak-anak yang tumbuh dari rumah belajar seperti ini punya karakter kuat—bukan hanya pintar membaca Al-Qur’an, tapi juga paham arti hormat, disiplin, dan empati.

PAY & Do IT melihat hal ini sebagai aset moral bangsa. Maka dari itu, setiap tahun gerakan ini terus menguatkan kolaborasi dengan rumah-rumah belajar dan komunitas lokal. Bukan sekadar datang memberi bantuan, tapi membangun jejaring kebaikan yang saling menopang.

“Rumah belajar itu sebenarnya benteng sosial masyarakat,” lanjut Bangzar. “Kalau guru ngajinya kuat, insyaAllah moral generasi juga kuat. Dan kalau kita bantu mereka, kita sedang bantu masa depan bangsa.”


Ketulusan yang Tak Terlihat Kamera

Salah satu momen yang paling membekas dalam kegiatan ini terjadi di Kelurahan Palmerah. Seorang guru ngaji bernama Bu Siti, yang sudah 20 tahun mengajar anak-anak di rumahnya, menerima bantuan dengan air mata menetes pelan.

“Bukan karena saya sedih,” katanya, “tapi saya terharu. Kadang kami merasa tidak dilihat. Tapi hari ini Allah kirimkan orang baik untuk mengingatkan bahwa perjuangan kecil ini tetap berarti.”

Kisah Bu Siti bukan satu-satunya. Hampir semua guru ngaji yang ditemui relawan memiliki cerita yang sama: mereka mengajar tanpa pamrih, tidak berharap bayaran, tapi selalu berharap ilmu mereka jadi amal jariyah.

Bagi PAY & Do IT, pertemuan-pertemuan kecil seperti inilah yang membuat setiap perjalanan terasa berharga. Tidak ada panggung besar, tapi ada rasa kemanusiaan yang besar.


Rumah Belajar Pecinta Anak Yatim: Wadah Kecil dengan Dampak Besar

Program ini lahir dari kegiatan rutin Rumah Belajar Pecinta Anak Yatim, salah satu inisiatif PAY & Do IT yang sudah lama bergerak di bidang sosial dan pendidikan berbasis komunitas.

Rumah Belajar ini tidak hanya untuk anak-anak yatim dan dhuafa, tapi juga jadi tempat berkumpulnya para relawan, guru ngaji, dan masyarakat yang ingin berkontribusi lewat tenaga, ilmu, dan kebaikan.

Setiap pekan, Rumah Belajar ini jadi pusat aktivitas positif: mulai dari kelas mengaji, diskusi remaja, sampai pelatihan keterampilan dasar.

“Rumah Belajar itu bukan cuma tempat belajar, tapi tempat bertumbuh,” kata salah satu relawan muda, Rifky. “Di sana kita belajar memberi tanpa pamrih, dan menerima dengan rasa syukur.”


Lebih dari Sekadar Bantuan Sosial

PAY & Do IT tidak melihat kegiatan ini sekadar sebagai penyaluran bantuan sosial. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap perjuangan orang-orang yang menjaga api pendidikan dan iman di tengah keterbatasan.

Kegiatan seperti ini juga menjadi cara untuk menguatkan rasa saling percaya di masyarakat—bahwa masih banyak orang baik yang peduli, bahwa kebaikan masih punya tempat di tengah hiruk-pikuk kota besar.

Dan yang paling penting, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap orang bisa berbuat baik, sekecil apa pun bentuknya. Tidak harus menunggu kaya atau punya lembaga besar. Cukup mulai dari apa yang ada.


Senyum yang Tak Ternilai

Sore menjelang malam, relawan PAY & Do IT menutup hari dengan rasa lelah yang manis. Mereka duduk di pinggir jalan kecil, berbagi teh hangat, sambil merenungkan perjalanan satu hari penuh itu.

Di pikiran mereka, terlintas senyum para guru ngaji yang ditemui tadi siang—senyum yang sederhana tapi jujur, senyum yang muncul dari rasa syukur.

“Lucu ya,” kata salah satu relawan sambil tertawa kecil, “kita pikir kita yang memberi, tapi ternyata kita yang paling banyak menerima.”

Dan memang benar. Di setiap aksi berbagi, PAY & Do IT selalu menemukan hal yang sama: semakin banyak memberi, semakin besar pula kebahagiaan yang diterima.


Mari Jadi Bagian dari Kebaikan Ini

PAY & Do IT percaya bahwa gerakan kebaikan tidak bisa berdiri sendiri. Ia butuh dukungan, butuh tangan-tangan yang ikut mengulurkan, dan hati-hati yang mau peduli.

Kalau kamu membaca kisah ini dan merasa tersentuh, jangan biarkan rasa itu lewat begitu saja. Jadikan ia langkah nyata. Dukung kegiatan PAY & Do IT agar semakin banyak guru ngaji yang tersenyum, semakin banyak anak-anak yang bisa belajar dengan tenang, dan semakin banyak cahaya kebaikan yang menyala di penjuru negeri.

💚
Yuk, ikut jadi bagian dari gerakan ini.
Kamu bisa berdonasi lewat tautan resmi:
👉 PecintaAnakYatim.org/Donasi

Bersama PAY & Do IT, kita buktikan bahwa kebaikan masih hidup, masih hangat, dan selalu menemukan jalannya untuk sampai ke hati mereka yang membutuhkan.


PAY & Do IT – Sahabat Berbagi Tanpa Birokrasi, Buat Mereka Tersenyum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *